Mengenai Saya

Foto Saya
malang, jawa timur, Netherlands Antilles
yach mg bermanfaat az semuana amien...

Selasa, 20 Desember 2011

laporan bunga tunggal dan bunga majemuk

LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN 1
BUNGA TUNGGAL DAN BUNGA MAJEMUK
(Planta Uniflora dan Planta Multiflora)

Dosen Pembimbing :
Evika Sandi Savitri, M.P

Oleh:
Nama   : Novia Qurrota Ayun
                                                NIM    : 08620029


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Bunga merupakan organ reproduktif pada tumbuhan. Berdasarkan tipenya, bunga dibagi menjadi bunga tunggal dan bunga majemuk. Pada bunga tunggal, satu tangkai hanya mendukung satu bunga, sedangkan pada bunga majemuk, satu tangkai mendukung banyak bunga (Fahn, 1991).
Bagian-bagian bunga juga bermacam – macam, bunga tunggal terdiri atas tangkai bunga (pedicellus), dasar bunga (receptaculum), kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik (pistillum). Bagian-bagian bunga majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga (pedunculus), daun pelindung (bractea), daun tangkai (bracteola), tangkai daun (pedicellus), dan bunga (flos) (Parwata, 2009).
Kita tidak akan mengetahui secara jelas atau detail tentang bagian masing – masing bunga, jika tidak melakukan penelitian. Maka dari itu, pada praktikum kali ini, akan dibahas sedikit banyak tentang morfologi bunga tunggal (Planta uniflora) dan bunga majemuk (Planta multiflora).

1.2 Tujuan
Agar dapat mengenal bermacam-macam susunan bunga tunggal  (Planta uniflora) dan bunga majemuk (Planta multiflora).
 .







BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Bunga merupakan organ reproduktif pada tumbuhan. Berdasarkan tipenya, bunga dibagi menjadi bunga tunggal dan bunga majemuk. Pada bunga tunggal, satu tangkai hanya mendukung satu bunga, sedangkan pada bunga majemuk, satu tangkai mendukung banyak bunga (Fahn, 1991).
Bagian-bagian bunga tunggal terdiri atas tangkai bunga (pedicel), dasar bunga (receptacle), kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik (pistil). Bagian-bagian bunga majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga (peduncle), daun pelindung (bract), daun tangkai (bracteola), tangkai daun dan bunga (Stace, 1980).
Bunga majemuk dapat dibedakan menjadi bunga majemuk terbatas dan bunga majemuk tidak terbatas. Contoh bunga majemuk terbatas adalah monochasium yang terdiri atas monochasium tunggal, sekrup, dan bercabang seling; dichasium yang terdiri atas dichasium tunggal dan dichasium majemuk; pleiochasium; bunga kipas dan bunga sabit (Widya, 1989).
Bunga majemuk tidak terbatas dibedakan menjadi bunga majemuk dengan ibu tangkai tidak bercabang dan bunga majemuk dengan ibu tangkai bercabang. Contoh yang pertama adalah bunga bulir, tongkol, untai, tandan, cawan, payung, bongkol, dan bunga periuk. Contoh yang kedua adalah bunga malai, thyrse, malai rata, bulir majemuk, tongkol majemuk dan payung majemuk (Dod, 1979).
Tipe lain bunga majemuk adalah bunga karangan semu, cyathium, berkas, tukal, dan lembing. Berdasarkan kelengkapan bagian bunga, bunga dibedakan menjadi bunga lengkap, bunga tidak lengkap, bunga sempurna (biseksual/hermaprodit) dan bunga tidak sempurna (uniseksual). Bunga uniseksual terdiri atas bunga jantan dan bunga betina. Berdasarkan pada kelamin bunga yang terdapat dalam suatu tumbuhan maka tumbuhan dibedakan menjadi tumbuhan berumah satu (monoecious), tumbuhan berumah dua (diecious) dan polygamous (Sudarnadi, 1996).
Berdasarkan jumlah bunga, tumbuhan dapat dibedakan menjadi tumbuhan berbunga tunggal (planta uniflora) dan tumbuhan berbunga banyak (planta multiflora). Berdasarkan letaknya, bunga dibedakan menjadi bunga terminal bila letaknya di ujung cabang atau ujung batang; dan bunga aksiler apabila bunga terletak di ketiak daun (Sulasmi, 2004).
Bagian bunga seperti daun kelopak dan daun mahkota berada pada susunan tertentu ketika masih kuncup. Hal ini disebut estivasi, contohnya estivasi valvate, valvate induplicate, valvate reduplicate, imbricate, ascending imbricate, descending imbricate, convolute, plicate, open dan quincuncial (Tjitrosoepomo, 1989).
Bagian bunga lainnya, seperti dasar bunga dapat mengalami peninggian. Beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan peninggian dasar bunga, misalnya anthofor, androfor, ginofor, androginofor dan discus. Bentuk dasar bunga yang biasa dijumpai adalah bentuk rata, kerucut, cawan, dan mangkuk (Sastrapradja, 1976).
Bunga adalah struktur pembiakan pada tumbuhan berbunga, yaitu tumbuhan-tumbuhan dalam divisi Magnoliophyta. Bunga mengandung organ-organ tumbuhan, dan fungsinya ialah untuk menghasilkan biji-biji melalui pembiakan. Untuk tumbuhan-tumbuhan yang bertaraf lebih tinggi, biji-biji merupakan generasi berikutnya, dan bertindak sebagai cara yang utama untuk penyebaran individu-individu spesies secara luas. Selepas persenyawaan, sebagian dari bunga itu akan berkembang menjadi buah yang meBunga terdiri atas sebuah sumbu yang padanya organ-organ bunga yang lain tumbuh. Bagian dari sumbu yang merupakan ruas yang berakhir dengan tangkai bunga (pedisel). Ujung distal pedisel ini mengembang dengan panjang yang beragam dan bagian ini disebut reseptakael bunga (talamus). Organ-organ bunga melekat pada reseptakel. Sebuah bunga yang khas mempunyai empat macam organ. Organ-organ yang paling luar adalah sepal yang secara bersama-sama membentuk kaliks yang biasanya berwaran hijau dan ditemukan paling rendah kedudukannya pada reseptakel. Disebelah dalam sepal adalah corolla yang terdiri atas petal, pada umumnya berwarna yang membentuk perhiasan bunga. Bila semua perhiasan bunga itu sama, mereka disebut tepal. Di dalam perhiasan bunga dijumpai dua macam organ reproduksi, yang sebelah luar disebut stamen yang bersma-sama membentuk androsium, dan sebelah dalam di sebut karpel yang membentuk ginesiumngandung biji-biji (Stace, 1980).
Pada umumnya bunga terdiri dari 4 bagian bunga dan tempatnya berturut turut dari tepi luar bunga bagian tengah kalix (kelopak), corolla (mahkota), andresium (kelamin jantan), ginesium (kelamin betina) (Greenway, 1997).
Pada satu tumbuhan ada kalanya hanya terdapat satu bunga saja (Planta uniflora) misalnya bunga coklat (Zepyranthus rosea Lindl). Tetapi umumnya satu tumbuhan terdapat banyak bunga (Planta multiflora) misalnya pada bunga mawar (Rosa sp) (Dod, 1979).
Jika suatu tumbuhan hanya mempunyai satu bunga saja, biasanya bunga itu terdapat pada ujung batang, jika bunganya banyak, dapat sebagian bunga – bunga tadi terdapat dalam ketiak – ketiak daun dan sebagian pada ujung batang atau cabang – cabang. Jadi menurut tempatnya pada tumbuhan, kita dapat membedakan (Tjitrosoepomo, 1989):
a)      Bunga pada ujung batang (flos terminalis), misalnya bunga coklat, kembang merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz).
b)      Bunga di ketiak daun (flos lateralis atau flos axillaris), misalnya pada kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.), kembang telang (Clitoria ternatea L.).
Selain dari itu pada suatu tumbuhan dapat kita lihat, bahwa bunganya yang besar jumlahnya itu, dapat (Tjitrosoepomo, 1989) :
1.       Terpencar atau terpisah – pisah (flores sparsi), misalnya pad kembang sepatu,
2.      Berkumpul membentuk suatu rangkaian dengan susunan yang beraneka ragam. Suatu rangkaian bunga dinamakan pula: bunga majemuk (anthotaxis atau inflorescentia), misalnya pada kembang merak.
Suatu bunga majemuk harus dapat di bedakan dari cabang yang mendukung sejumlah bunga di ketiaknya. Pada suatu cabang dengan sejumlah bunga di ketiak jelas kelihatan, bahwa diantara bunga – bunganya sendiri yang terdapat pada cabang itu terdapat daun – daun biasa yang berguna untuk berasimilasi. Pada suatu bunga majemuk sumbu yang mendukung bunga – bunga yang telah berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau juka ada daunnya, daun – daun tadi telah mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk asimilasi. Walaupun demikian menurut kenyataanya sering kali tidak mudah untuk membedakan suatu bunga majemuk dari cabang yang mempunyai bunga – bunga di ketiak daunnya (Parwata, 2009).
Pada suatu bunga majemuk lazimnya dapat kita bedakan bagian – bagian berikut (Greenway, 1997) :
a.       Bagian – bagian yang bersifat seperti batang atau cabang, yaitu:
1.      Ibu tangkai bunga (pedunculus, pedunculus communis atau rhacis), yaitu bagian yang biasanya merupakan terusan batang atau cabang yang mendukung bunga majemuk tadi. Ibu tangkai ini dapat bercabang, dan cabang – cabangnya bercabang lagi, dapat pula sama sekali tidak bercabang.
2.      Tangkai bunga (pedicellus), yaitu cabang ibu tangkai yang mendukung bunganya.
3.      Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai bunga, yang mendukung bagian – bagian bunga lainnya.
b.      Bagian – bagian yang bersifat seperti daun antara lain:
1.      Daun – daun pelindung (bractea), yaitu bagian – bagian serupa daun yang dari ketiaknya muncul cabang – cabang ibu tangkai atau tangkai bunganya.
2.      Daun tangkai (bracteola), yaitu satu atau dua daun kecil yang terdapat pada tangkai bunga. Pada tumbuhan biji belah (Dikotyledonae) biasanya terdapat dua daun tangkai yang letaknya tegak lurus pada bidang median, sedang pada tumbuhan biji tunggal (Monocotyledoneae) hanya terdapat satu daun tangkai dan letaknya di dalam bidang median, di bagian atas tangkai bunga.
3.      Seludang bunga (spatha), yaitu daun pelindung yang besar, yang seringkali menyelubungi seluruh bunga majemuk waktu belum mekar, misalnya terdapat pada bunga kelapa (Cocos nucifera L.), iles – iles (Amorphophallus variabillis BI.).
4.      Daun – daun pembalut (bractea involucralis, involucrum), yaitu sejumlah daun – daun pelindung yang tersusun dalam suatu lingkaran, terdapat misalnya pada bunga matahari (Helianthus annuus L.)
5.      Kelopak tambahan (epicalix), yaitu bagian – bagian serupa daun yang berwarna hijau, tersusun dalam suatu lingkaran dan terdapat di bawah kelopak, misalnya pada bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.). kapas (Gossypium sp.).
6.      Daun – daun kelopak (sepalae).
7.      Daun – daun mahkota  atau daun tajuk (petalae).
8.      Daun – daun tenda bunga (tepalae), jika kelopak dan mahkota sama bentuk dan warnanya.
9.      Benang – benang sari (stamina).
10.  Daun – daun buah (carpella).
Bunga majemuk tak berbatas (inflorescentia racemosa, inflorescentia botryoides atau inflorescentia), yaitu bunga majemuk yang ibu tangkainya dapat tumbuh terus, dengan cabang – cabang yang dapatbbercabang lagi atau tidak, dan mempunyai susunan ”acropental” (semakin muda semakin dekat dengan ujung ibu tangkai), dan bunga – bunga pada bunga majemuk ini mekar berturut – turut dari bawah ke atas. Jika ujung ibu tangkai tak mendukung suatu bunga, tampknya seakan – akan bunga majemuk ini tidak terbatas, lagi pula jika dilihat dari atas, nampak bunga mulai mekar dari pinggir dan yang terakhir mekarnya ialah bunga yang menutup ibu tangkainya. Karena yang mekar mulai dari pinggir menuju ke pusat itulah maka bunga majemuk yang bersifat demikian ini di namakan inflorescentia centripetala. Bunga majemuk tak terbatas terdapat misalnya pada kembang merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz), mangga (Mangifera indica L.) (Widya, 1989).
Bunga majemuk berbatas (inflorescentia cymosa atau inflorescentia centrifuga, inflorescentia definita), yaitu bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya selalu di tutup dengan suatu bunga, jadi ibu tangkai mempunyai pertumbuhan yang terbatas. Ibu tangkai ini dapat pula bercabang – cabang, dan cabang – cabang tadi seperti ibu tangkainya juga selalu mendukung suatu bunga pada ujungnya. Pada bunga majemuk yang terbatas bunga yang mekar dulu ialah bunga yang terdapat di sumbu pokok atau ibu tangkainya, jadi dari tengah ke pinggir (jika di lihat dari atas), oleh sebab itu di namakan: inflorescentia centrifuga (Fahn, 1991).
Melihat jumlah cabang pada ibu tangkai bunga majemuk terbatas di bedakab dalam tiga macam (Sastrapradja, 1976):
1.      Yang bersifat ”monochasial”, jika ibu tangkai hanya mempunyai satu cabang, ada kalanya lebih (dua cabang), tetapi tidak pernah berhadapan, dan yang satu lebih besar daripada yang lainnya. Cabang yang besar selanjutnya seperti ibu tangkai setiap kali hanya mengeluarkan astu cabang saja. Bunga majemuk semacam ini di temukan pada berbagai jenis tumbuhan yang berbiji tunggal (Monocotyledoneae), kapas (Cossypium sp.).
2.      Yang bersifat ”dichasial”, jika dari ibu tangkai keluar dua cabang yang berhadapan, terdapat pada tumbuhan dengan bunga berbibir (Labiatae), dll.
3.      Yang bersifat ”pleiochasial”, jika dari ibu tangkai keluar lebih dari dua cabang pada suatu tempat yang sama tingginya pada ibu tangkai tadi, misalnya pada bunga oleander (Nerium oleander L.).
Bunga majemuk campuran (inflorescentia mixta), yaitu bunga majemuk yang memperlihatkan baik sifat – sifat bunga majemuk berbatas maupun sifat bunga majemuk tak berbatas. Bunga majemuk yang di bedakan dalam ke tiga golongan tersebut di atas masing – masing dapt lagi di bedakan dalam beberapa ragam yaitu di antaranya (Sulasmi, 2004):
a.      Bunga majemuk tak terbatas (inflorencentia racemosa, inflorescentia botryoides, inflorescentia centripetala).
Dalam golongan ini dapat di bedakan lagi yang:
I.       bu tangkai tidak bercabang – cabang, sehingga bunga (bertangkai atau tidak) langsung terdapat pada ibu tangkainya.
1.      Tandan (racemus), jika bunga bertangkai nyata, ibu tangkai bercanag, dan cabang – cabangnya masing – masing mendukung satu bunga pada ujungnya, misalnya pada kembang merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz).
2.      Bulir (spica), seperti tandan tetapi bunga tidak bertangkai, misalnya bunga jorong (Stachytarpheta jamaicensis Vahl,).
3.      Untai atau bunga lada (amentum), seperti bulir tetapi ibu tangkai hanya mendukung bunga – bunga yang berkelamin tunggal, dan runtuh selutuhnya (bunga majemuk yang mendukung bunga jantan, yang betina menjadi buah), misalnya pada sirih (Piper betle L.).
4.      Tongkol (spadix), seperti bulir, tetapi ibu tangkai besar, tebal, dan seringkali berdaging, misalnya pada jagung (Zea mays L.), tetapi hanya bunga yang betina.
Pada suatu bunga tongkol sering kali terdapat seludang bunga yang indah dan menarik warnanya, yang selain berguna untuk menarik serangga, juga sebagai perangkap bagi serangga yang mengunjungi bunga ini. Pada sebuah tongkol, bunga betinanya terdapat di bagian atas, sedang bunga jantan di bagian bawah, dan diantara kedua jenis bunga itu seringkali terdapat bunga – bunga yang mandul, seperti pada iles – iles dan tumbuhan yang tergolong suku Araceae pada umumnya.
5.      Bunga payung (umbella), yaitu suatu bunga majemuk tak terbatas, yang dari ujung ibu tangkainya mengeluarkan cabang – cabang yang sama panjangnya. Masing – masing cabang mempunyai suatu daun pelindung pada pangkalnya, dan karena pangkal daun sama tinggi letaknya, maka tampak seakan – akan pada pangkal cabang – cabang tadi seperti tedapat daun – daun pembalut. Bunga payung terdapat pada tumbuhan suku Umbelliferae, misalnya: daun kaki kuda (Centella asiatica Urb).
6.      Bunga cawan (corymbus), yaitu suatu bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya lalu melebar dan merata, sehingga mencapai bentuk seperti cawan, dan pada bagian itulah tersusun bunga – bunganya. Pada pangkal bunga majemuk yang demikian ini biasanya terdapat daun – daun pembalut (involucrum). Selain dari itu pada bunga cawan lazimya kita dapati dua macam bunga yaitu:
a.       Bunga pita: bunga yang mandul yang terdapat sepanjang tepi cawan, oleh sebab itu dinamakan pula bunga pinggir (flos marginalis), yang serimg kali mempunyai mahkota yang berbentuk pita.
b.      Bunga tabung, bunga – bunga yang terdapat di atas cawannya sendiri (flos disci), seringkali kecil dan berbentuk tabung, oleh sebab itu dinamakan pula bunga tabung. Bunga inilah yang mempunyai kedua macam alat kelamin dan dapat menghasilkan buah.
7.      Bunga bongkol (capitulum), suatu bunga majemuk yang menyerupai bunga cawan, tetapi tanpa daun – daun pembalut, dan ujung ibu tangkai biasanya membengkak, sehingga bunga majemuk seluruhnya berbentuk seperti bola.
8.      Bunga periuk (hypanthodium). Bunga ini dapat di bedakan dalam dua bentuk, yaitu:
a.       Ujung ibu tangkai menebal, berdaging, mempunyai bentuk seperti gada, sedang bunga – bunganya terdapt meliputi selutuh bagian yang menebal tadi, sehingga tercapai bentuk bulat atau silinder. Daun – daun pembalut tidak ada.
b.      Ujung ibu tangkai menebal berdaging, membentuk badan yang menyerupai periuk, sehingga bunga – bunga yang semestinya terletak padanya lalu terdapat di dalam periuk tadi, dan sama sekali tak tampak dari luar.
II.    Ibu tangkai bercabang – cabang, dan cabang – cabangnya dapat bercabang lagi, sehingga bunga – bunga tidak terdapat pada ibu tangkainya. Dalam golongan ini dapat di sebut:
1.      Malai (panicula), ibu tangkainya mengadakan percabangan secara monopodial, demikian pula cabang – cabangnya, sehingga suatu malai dapat di samakan dengan suatu tandan majemuk. Secara keseluruan seringkali memperlihatkan bentuk sebagai kerucut atau limas, misalnya bunga mangga (Mangifera indica L.).
2.      Malai rata (corymbus romosus), ibu tangkai mengadakan percabangan, demikian pula seterusnya cabngnya, tetapi cabang – cabang tadi mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga seakan – akan semua bunga pada bunga majemuk ini terdapat pad suatu budang datar atau agak melengkung.
3.      Bunga payung majemuk (umbella composita), yaitu suatu bunga payung yang bersusun, dapat pula dikatakan sebagai bunga payung, yang bagian – bagiannya berupa suatu payung kecil. Pada pangkal percabangan yang pertama terdapat terdapat daun – daun pembalut, demikian pada pangkal cabang yang berikutnya, hanya daun – daunya lebih kecil.
4.      Bunga tongkol majemuk, yaitu bunga tongkol, yang ibu tangkainya bercabang – cabang dan masing – masing cabang merupakan bagian dengan susunan seperti tongkol pula, misalnya pada kelapa (Cocos nucifera L.).
5.      Bulir majemuk, jika ibu tangkai bunga bercabang – cabang dan masing – masing cabang mendukung bunga – bunga dengan susunan seperti bulir, misalnya pada bunga jagung (Zea mays L.).
Bunga pada umumnya mempunyai bagian – bagian berikut (Dod, 1979):
a.       Tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang, padanya seringkali terdapat daun – daun peralihan, yaitu bagian – bagian yang menyerupai daun, berwarna hijau, yang seakan – akan merupakan peralihan dari daun biasa ke hiasan bunga.
b.      Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan ruas – ruas yang amat pendek, sehingga daun – daun yang telah mengalami metamorfosis menjadi bagian – bagian bunga yang duduk amat rapat satu sama lain, bahkan biasanay lalu tampak duduk dalam satu lingkaran.
c.       Hiasan bunga (perianthium), yaitu bagian bunga yang merupakan penjelmaan daun yang masih tampak berbentuk lembaran dengan tulang – tulang atau urat – urat yang masih jelas. Biasanya hiasan bunga dapat di bedakan dalam dua bagian yang masing – masing duduk dalam satu lingkaran. Jadi bagian – bagian hiasan bunga itu umumnya tersusun dalam dua bagian antara lain: kelopak (kalix) dan mahkota bunga (corolla).
d.      Alat – alat kelamin jantan (androecium), bagian ini sesungguhnya juga merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari. Androecium terdiri atas sejumlah benang sari (stamen).
e.       Alat kelamin betina (gynaecium), yang pada bunga merupakan bagian yang biasanya disebut putik (pistilum), juga putik terdiri atas metamorfosis daun yang disebut daun buah (carpella). Pada bunga dapat ditemukan satu atau beberapa putik, dan setiap putik dapat terdiri atas beberapa daun buah.
Melihat bagian – bagian yang terdapat pada bunga maka bunga dapat di bedakan dalam (Tjitrosoepomo, 1989):
1.      Bunga lengkap (flos completusl), yang terdiri atas: lingkaran daun – daun kelopak, lingkaran daun – daun mahkota, lingkaran benang – benang sari dan satu lingkaran daun – daun buah.
2.      Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (flos incompletusl), jika salah satu bagian hiasan bunga atau salah satu alat kelaminnya tidak ada. Jika bunga tidak mempunyai hiasan bunga, maka bunga itu di sebut telanjang (nudus), juka hanya mempunyai salah satu dari kedua macam alat kelaminnya, dinamakan berkelamin tunggal (unisexualis). 
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.2  Pembahasan
3.2.1  Bunga putri malu (Mimosa pudica).
Berdasarkan hasil pengamatan pada bunga putri malu (Mimosa pudica) ini memiliki bunga yang sangat indah yang berwarna ungu dan berbentuk bulat, bunga dari bunga putri malu (Mimosa pudica) ini termasuk dalam bunga majemuk, sedangkan bunga majemuk itu bermacam – macam jenisnya dan bunga putri malu ini termasuk dalam bunga majemuk tak terbatas karena bunganya mekar mulai dari pinggir manuju ke pusat. Bagian – bagian bunganya  hanya terdapat 2 bagian yaitu benang sari dan putik, oleh karena itu bunga ini disebut juga dengan bunga tidak lengkap. Bunga ini tumbuh pada ketiak daun dan merupakan bunga bongkol karena tidak memiliki daun – daun pembalut dan ujung ibu tangkai membengkak.

Putri malu atau dalam bahasa ilmiah Mimosa pudica L. adalah tumbuhan dengan ciri daun yang menutup dengan sendirinya saat disentuh dan membuka kembali setelah beberapa lama. Tanaman berduri ini termasuk dalam klasifikasi tanaman berbiji tertutup (angiospermae) dan terdapat pada kelompok tumbuhan berkeping dua atau dikotil. Tumbuhan berdaun majemuk menyirip dan daun bertepi rata ini memiliki letak daun yang behadapan serta termasuk dalam suku polong-polongan. Bunga bulat seperti bola, warna merah muda, bertangkai. Bunga rumput putri malu (Mimosa pudica L), rumput yang sering kita temui tumbuh liar ditanah-tanah tak terurus, di jalan-jalan desa, atau mungkin tumbuh di halaman rumah kita. Ternyata dari rumput liar ini tak disangka memiliki bunga yang amat cantik dengan benang sari yang menjulang membentuk bola dan darinya tak nampak kelopak bunga (Stace, 1980).
Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropis yang ditemukan pada ketinggian 1200 meter di bawah permukaan laut. Bunga berbentuk bulat seperti bola, bertangkai, berwarna ungu/merah. Kelopak sangat kecil, bergigi empat, seperti selaput putih. Tabung mahkota kecil, bertaju empat, seperti selaput putih. Dia termasuk dalam bunga bongkol, karena bunganya majemuk yang menyerupai bunga cawan, tetapi tanpa daun – daun  pembalut, dan ujung ibu tangkai biasanya membengkak, sehingga bunga majemuk seluruhnya berbentuk seperti bola (Dod, 1979). 
Berdasarkan hasil pengamatan jika di bandingkan dengan literatur menurut Stace 1980 dan Dod 1979 sudah sesuai yaitu tentang jenis bunga majemuk tak terbatas dan termasuk bunga bongkol, dsb.
3.2.2  Bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.).
Berdasarkan hasil pengamatan pada bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) ini termasuk dalam bunga tunggal. Bunga ini mempunyai bagian – bagian yang lebih kompleks dari pada bunga putri malu, bagian – bagiannya yaitu antara lain: kepala putik, benang sari, daun mahkota, kelopak, daun kelopak, tangkai bunga, tangkai sari, dan tangkai putik. Oleh karena itu bunga ini juga disebut dengan bunga lengkap. Bunga sepatu ini tumbuh pada ketiak daun.
Kembang sepatu (Hibiscus Rosa Sinensis Linn) adalah tanaman semak yang berasal dari Asia Timur dan banyak ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan subtropis. Bunganya besar dan tidak mempunyai bau/wangi. Pelbagai varieties, dan hibrid telah dihasilkan, dengan warna bunga dari putih, kuning, oranye, merah muda, merah, dan ungu dengan kelopak tunggal dan berganda. Tanaman ini berkembang biak secara vegetatif dengan cara stek, pencangkokan, dan penempelan. Kembang sepatu juga di sebut tanaman obat, karena memiliki kandungan kimia yang disebut flavonida, zat samak dan lender, yang memiliki khasiat anti inflamasi, diuretic, analgesic, sedative dan ekspetoran. Bagian tanaman yang dapat digunakan adalah daun, bunga, batang dan akar. Bunganya mengandung hibiscetin, sedangkan batang dan daunnya mengandung kalsium oksalat, peroksidase, lemak, dan protein. Bunga sepatu adalah bunga tunggal dan tumbuh pada ketiak daun, dia juga disebut dengan bunga lengkap (Stace, 1980).
Berdasarkan hasil pengamatan di bandingkan dengan literatur sudah sesuai atau sudah sebanding bahwa pada bunga sepatu termasuk pada bunga tunggal, tumbuh pada ketiak, dan termasuk bunga lengkap.


3.2.3  Bunga merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz).
Berdasarkan hasil pengamatan pada bunga merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz) ini termasuk dalam bunga majemuk yaitu bunga majemuk tak terbatas karena bunga ini ibu tangkainya dapat tumbuh terus, dengan cabang – cabang yang dapat bercabang lagi atau tidak, dan mempunyai susunan acropental. Dilihat dari bagian – bagiannya jenis bunga ini sama dengan bunga sepatu yaitu bagian – bagiannya adalah: tangkai putik, putik, tangkai sari, benang sari, daun mahkota, mahkota, tangkai bunga, dan kelopak. Maka dari itu bunga ini juga di sebut dengan bunga lengkap. Bunga ini tumbuh pada ujung ibu tangkai  dan termasuk bunga tandan.
Tumbuhan kembang merak berasal dari Amerika Selatan memiliki bunga majemuk yang tersusun dalam tandan yang panjangnya 15-50 cm dengan warna bunga merah dan kuning, sedangkan buahnya berbentuk buah polong, pipih, panjang 6-12 cm, lebar 1,5 cm berisi 18 buah dan biji tersebut bisa dikonsumsi. Buah yang sudah tua warnanya hitam (Sudarnadi, 1996).
Tumbuhan kembang merak biasanya ditanam sebagai tanaman hias. Tanaman ini bisa tumbuh tinggi dan melebar. Bunganya cantik, berwarna kuning cerah, kuning kemerahan semburat jingga dan merah jambu; merupakan bunga majemuk yang benang sari halusnya menjurai panjang. Setiap tangkai bisa terdiri dari belasan kuntum bunga. Berbunga sepanjang tahun sehingga cocok sebagai penghias kebun. Selain populer sebagai bunga merak, dikenal juga dengan nama patra komala, kembang abang, jambul merak, dan bunga jingoh (Widya, 1989).
Bunga merak merupakan bunga majemuk dengan karangan bunga berbentuk tandan (racemus) dan termasuk kedalam bunga bisexualis. Perhiasan bunga berupa corolla dan calyx. Calyx terdiri dari 5 sepal yang lepas. Corolla berbentuk kupu-kupu terdiri dari 5 petal yang saling lepas, 1 petal yang besar disebut bendera atau vexilum, 2 sayap atau ala, 2 tunas atau carina satu sama lain terpisah warnanya putih. Benang sari atau stamen jumlahnya 10, 9 bersatu dan 1 buah lepas (diadelpus) semuanya sama panjang. Putik atau pistilum berjumlah 1 dengan letak ovarium superum terdiri dari 1 loculus dan 1 carpelum, jumlah ovulum bisa 1 sampai banyak ovulum dengan letak ovulum parietalis (Parwata, 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan jika dibandingkan dengan literatur sudah sesuai atau sebanding bahwa bunga merak termasuk dalam bunga tandan, dan tumbuh pada ibu tangkai, dan juga termasuk dalam bunga majemuk, meskipun di literatur tidak di jelaskan termasuk dalam bunga majemuk tak terbatas.
3.2.4  Bunga soka (Lxora hibrida).
Berdasarkan hasil pengamatan Bunga soka (Lxora hibrida) ini termasuk bunga majemuk dan termasuk dalam bunga majemuk tak terbatas. Bagian - bagian bunga dari bunga ini sangat sedikit sekali yaitu hanya mempunyai mahkota dan benang sari, maka dari itu bunga ini disebut dengan bunga tidak lengkap. Bunga ini tumbuh pada ujung ibu tangkai dan termasuk bunga malai rata karena ibu tangkai mengadakan percabangan.
Soka yang asli bisa tumbuh mencapai 3 m dengan batang berzat hayu keras. Beragam warna bunga soka yang sering terlihat sekarang ini merupakan hasil persilangan. Pohonnya tegak, berdaun rimbun, dengan banyak batang dan ranting. Bunganya unik, bergerombol membentuk bola, terdiri dari puluhan kuntum kecil setiap tangkainya. Warna bunga soka menarik : merah, jingga, kuning pucat, kuning, pink, dan putih. Soka bisa ditanam sendiri atau bila dijajarkan dapat berfungsi sebagai tanaman pagar. Soka tidak memerlukan perawatan khusus. Asal cukup air dan sinar matahari, bunganya akan muncul maksimal. Bisa tumbuh di dataran tinggi atau rendah. Pembiakannya cukup dengan setek atau cangkok. Dalam jambangan bunganya bisa bertahan 4-5 hari, asal pada waktu memotong pilih yang masih banyak kuncupnya (Greenway, 1997).
Tanaman soka merupakan tanaman yang menghendaki penyinaran matahari penuh teruatama untuk merangsang pembungaan. Meskipun jenisnya cukup beragam, secara umum bentuk morfologis tanaman terutama bagian bunganya tidak berbeda jauh yaitu tersusun atas beberapa bunga kecil yang masing-masing memiliki empat petal mahkota dalam satu tangkai mirip payung terbuka. Bunga soka yang masih kuncup mirip jarum sehingga akan terkesan gundukan jarum berwarna merah disaat belum mekar. Warna kelopak bunga ada yang merah, merah muda, ungu , putih dan kuning. Namun di Indonesia jumlah soka berwarna merah lebih banyak dibandingkan lainnya. Berbeda dengan bentuk bunganya, penampilan batang dan daun bunga soka bisa bermacam-macam. Ada yang lebar, ada yang sempit, ada juga yang medium tergantung asalnya. Soka Jawa lebih condong berdaun lebar dengan tandan bunga ramping dan kuntum bunganya berwarna merah (Fahn, 1991).
Berdasarkan hasil pengamatan dibandingkan dengan literatur, kurang sesuai yaitu pada hasil pengamatan tidak ditemukan kelopak sedangkan pada literatur di jelaskan bahwa bunga soka mempunyai kelopak dengan warna yang bermacam – macam.
3.2.5  Bunga bougenville (Bougainvillea spectabilis).
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa pada bunga bougenville ini termasuk dalam bunga majemuk yaitu termasuk dalam majemuk tak terbatas. Bunga bougenville termasuk juga dala bunga tidak lengkap karena hanya mempunyai bagian – bagian bunga diantaranya yaitu: tenda bunga, benang sari, putik, dan pangkal bunga. Bunga ini tumuh pada ketiak daun, dan termasuk bunga malai karena ibu tangkainya mengadakan percabangan secara monopodial.
Bunga kertas berasal dari Amerika Latin dan ditemui oleh Antonie de Bougainveille pada tahun 1769-1776 di Brazil. Fasa pembungaan bunga kertas ini agak aneh kerana jika ia nya tumbuh di tempat yang kurang subur dan kering, pokok ini akan menghasilkan bunga yang lebat. Dari 13 spesies bunga kertas ini, yang paling banyak ditanam ialah Bougenvillia spectabilis dan Bougenvillia glabra. Semuanya tergolong dalam famili Nyctaginaceae. Spectabilis berbunga cerah dengan untaian bunga yang menonjol dan rangkaian yang cukup panjang, warnanya ialah putih, ungu, orange dan merah. Glabra mempunyai bentuk bunga yang kurang menonjol kerana bunganya muncul antara daun. Bunga asli bougenville sendiri sebenarnya berwarna putih yang berkumpul dibatang atau ketiak-ketiak daun dalam jumlah banyak dan dilindungi oleh duri-duri tajam. Tanaman asal Brazil ini memiliki batang yang cenderung melilit dan lentur. Bunganya yang cantik merupakan daun yang berubah bentuk, warna dan menyerupai kertas. Bunga cantik ini yaitu tergolong bunga majemuk tak terbatas, dan disebut juga bunga malai.
Berdasarkan hasil pengamatan dibandingkan dengan literatur sudah sebanding atau sesuai yaitu pada bunga bougenville termasuk bunga majemuk tak terbatas, tumbuh pada ketiak daun, dan termasuk juga dalam bunga malai (Sastrapradja, 1976).

BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Dari  hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
1.      Bunga putri malu (Mimosa pudica), bunga merak (Caesalpinia pulchemma), bunga soka (Lxora hybrida), dan bunga bougenville (Bougainvillea spectabilis) termasuk dalam bunga majemuk.
2.      Bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis L) termasuk dalam bunga tunggal.
3.      Bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis L), dan bunga merak (Caesalpinia pulchemma) termasuk bunga lengkap.
4.      Bunga putri malu (Mimosa pudica), bunga soka (Lxora hybrida), dan bunga bougenville (Bougainvillea spectabilis) termasuk dalam bunga tidak lengkap.
5.      Bunga putri malu (Mimosa pudica), bunga merak (Caesalpinia pulchemma), bunga soka (Lxora hybrida), dan bunga bougenville (Bougainvillea spectabilis) termasuk bunga majemuk tak terbatas.

4.2  Saran
Praktikum sudah berjalan dengan lancar dan baik, dan praktikan sudah mulai nyambung dengan penjelasan – penjelasan para asisten. Makasih asisten……










DAFTAR PUSTAKA
Dod, B. 1979. Tanaman Bunga di Dunia. (terjemahan). Jakarta : UI Press.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan. (Terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Greenaway, T. 1997. Pohon. (Terjemahan: Hadisunarso, 2002). Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Parwata, Oka Adi, dkk. 2009. Isolasi dan Uji Antiradikal Bebas Minyak Atsiri Pada Ekstrak Daun Bunga Sepatu  Secara Spektrokopi Ultra Violet – Tampak. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana: Bukit Jimbaran.
Sastrapradja, et al. 1976. Tanaman Indonesia. Bogor: Lembaga Biologi Nasional-LIPI.
Stace, C.A. 1980. Taksonomi tumbuhan dan biosistematik. Bogor : IPB Press.
Sudarnadi, H. 1996.Tumbuhan Monokotil. 133 Hal. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sulasmi. 2004. Macam – Macam Tanaman Dataran Tinggi dan Rendah. Bogor: IPB Press.
Tjitrosoepomo, G. 1989. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Widya, yasinta. 1989. Tanaman obat indonesia. Malang : Universitas Negeri Malang Press.



2 komentar: